Nilai – nilai yang terkandung dalam ICT

Sahur hari ini istri saya cerita bahwa kemarin dengar siaran radio tentang ICT (Information & Communication Technology) yang diulas oleh Pak Nuh (DR, Ir. Muh Nuh, DEA, menkominfo) dengan cukup asyik karena dilihat dari sisi syariah. Kali ini saya ingin berbagi cerita yang diperoleh dari istri, tentunya ada sedikit “losses of information” dan saya tambahi dikit – dikit he he he.

Menurut Pak Nuh dalam era informasi ini, pemanfaat ICT memang sudah merasuk ke semua detail aktifitas hidup kita mulai bangun tidur di pagi hari sampai akan tidur lagi di malam hari. Penggunaan hand phone, komputer, Ipod, mesin fax, internet dengan google-nya, berbagai aplikasi software pembantu kerja dan lain – lain yang tidak bisa dihitung satu persatu menjadi bukti atas life style kita yang bernuansa teknologi informasi.

Nah, pesan yang disampaikan Beliau adalah agar kita ini tidak asal menggunakan perangkat dan media ICT ini tanpa memahami nilai – nilai (value) yang terkandung di dalamnya. Kalau nilai tersebut tidak kita pahami dengan baik, maka kita tidak bisa memanfaatkannya untuk pengembangan lebih lanjut (jadi konsumen saja tanpa faedah yang maksimal). Kalau kita hanya tahu bahwa hp hanya bisa untuk nelpon dan sms, maka kita mungkin tidak berpikir bahwa dengan hp sebenarnya kita bisa berdakwah. Ha ?! iya ya ?!.

Ternyata sebagian dari kita ada yang sudah paham betul nilai – nilai tersebut, contohnya ?! tuh ada orang yang memberikan layanan seperti : ketik reg dst dst dst meskipun kemudian konten-nya bisa belok tergantung visi dan misi masing –masing orang (karena saya ingat ada yang berikan layanan ramalan kayak dukun he he he).

Okey, satu hal lagi bahwa nilai – nilai tersebut ternyata bisa lho di-kait-kan dengan syariah (agama), terserah kita mau menyelami apa tidak.

Menurut Beliau Nilai yang terkandung di ICT antara lain :

SPEED. Di dalam dunia ICT, kecepatan informasi menjadi ciri yang tidak pernah ada pada era sebelumnya. Semua hal berubah menjadi serba cepat dan dari sisi kecepatan inilah kemudian orang/ lembaga/ bangsa bisa berkompetisi mewujudkan visi dan misinya secara lebih ”adil”. Lebih adil ? Ya memang lebih adil. Dulu yang mendominasi kompetisi dalam hal apapun selalu pihak yang lebih kuat atau lebih kaya. Sekarang ini siapapun dia, asalkan bisa menguasai informasi lebih cepat dan akhirnya bisa mengolah data tersebut lebih cepat dari pihak lain (dan biasanya lebih akurat), maka kata orang “dunia ada dalam genggaman”. Nah, kalau kemudian banyak orang mulai bekerja dengan kecepatan tinggi, trus kita tetap alon – alon waton kelakon (=lelet – lelet saja dan lemot/ lemah otak) maka kita akan tertinggal dilandasan saat orang lain sudah terbang semua. Tul ndak ? ;

NETWORK; Di era informasi ini, yang namanya jaringan kerja dengan skala yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa dibangun oleh manusia. Coba kita renungkan cara kerja 7000-an fisikawan dunia yang tempo hari melakukan kerja akhirnya setelah selama bertahun – tahun bekerja keras membuktikan “teori bigbang” saat awal terbentuknya alam semesta. Lha itu fisikawan asalnya dari ratusan negara dan bekerja bareng – bareng. Sarana ICT yang super canggih pasti menjadi tulang punggung cara bekerja mereka. Nah, apa bisa begitu kalau jaman dulu ? Ndak mungkin kan ?! he he he rupanya Tuhan memberikan lagi ilmunya kepada manusia untuk membuktikan bahwa firman-Nya tentang pembentukan alam semesta ini adalah benar, cuman apa kita mau berpikir untuk itu ? Masalahnya, kalau semua orang sudah bekerja dengan prinsip network, trus kita tetap arogan (sombong) dan berpendapat semua hal bisa dikerjakan sendiri, apa yang terjadi ? ya kita akan ketinggalan kereta dan tidak bisa membangun sesuatu yang besar untuk umat manusia;

EFISIEN. Di era ICT ini, efisiensi menjadi sesuatu yang dijadikan tujuan utama. Kalau dulu orang harus bertemu dalam rapat untuk memutuskan suatu hal atau mrancang strategi sehingga banyak ongkos, maka sekarang semua bisa serba efisien dengan sms, teleconference dan bentuk – bentuk lain penyebaran informasi by electronic yang relatif lebih murah. Disamping itu, jika semua proses produksi atau distribusi bisa di-fasilitasi ICT secara otomatis, maka biaya – biaya tidak semestinya yang harus keluar karena ada orang yang menyalahgunakan kewenangan juga akan terkikis. Saya dapat cerita dari teman bahwa ongkos pengiriman barang dari makasar ke menado yang jaraknya 1/3 dari eropa ke warsawa ternyata besarnya malah 3 kali lipat. Nah tuh ! saya ndak mau komentar lebih dalam aah, ntar ada yang tersinggung he he he.

Oh ya, sampai lupa mengkaitkan antara nilai tadi dengan syariah. Ternyata speed akhirnya dapat dikaitkan dengan mewujudkan keadilan, trus kalau network dikaitkan dengan silaturahmi dan efisien dikaitkan dengan tidak mubadzir. Nah lho ! ternyata banyakbanget ya positif-nya ICT kalau kita mau ! Okey, sementara itu dulu, sampai ketemu lagi.

Salam.

4 thoughts on “Nilai – nilai yang terkandung dalam ICT

  1. wow emang pak nuh seorang engineer sekaligus uztad.. udah lama ngak liat langsung di ceramah…
    wah boleh juga tuh.. hubungan speed-keadilan, network-silaturahmi, efisien-tidak mubadzir.

  2. Betul, Beliau memang idola kita – kita para yuniornya. Sudah pinter ilmu dunia eeeh ilmu akhiratnya juga mumpuni he he he.
    Salam kenal ya.

  3. Syukurlah Pak Anton, silahkan diambil informasi yang ada di Blog ini, jika ada yang kurang pas atau kurang sependapat bisa kita diskusikan di sini, mungkin teman yang lain bisa nimbrung beri alternatif pemecahan.
    Salam kenal Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s