Pada Pengadaan Barang/Jasa, jika bagaimana terjadi kerugian negara ?

Memang sudah saat-nya kita di jajaran birokrasi bekerja dengan profesional dalam arti bahwa dalam mengemban tugas – tugas yang diberikan kita senantiasa melaksanakannya berdasarkan etika, teknis keilmuan terkait pekerjaan yang dilaksanakan serta aturan yang berlaku, pun termasuk dalam melaksanakan proses pengadaan barang/jasa. Insya Allah kalau ketiga hal ini kita pegang teguh, maka kekuatiran untuk salah langkah dalam menjalankan tugas atau bayangan bahwa kita akan terjebak pada situasi tuduhan melakukan korupsi bisa kita minimalkan.
Oleh karena itu, beberapa pengertian – pengertian pokok atas ketiga hal tersebut perlu kita pahami, misalkan tentang kerugian negara yang menurut para ahli hukum merupakan salah satu dari 3 hal yang jika terpenuhi bersama – sama akan bisa menjerat seseorang sebagai kategori koruptor (artinya kalau hanya salah satu atau salah dua, ya mestinya tidak dapat dipakai untuk menuduh orang telah korupsi). Kita tidak ingin kan dikategorikan koruptor ? Shereeem banget kalau sampai terjadi dan mudah – mudahan Yang Maha Kuasa senantiasa melindungi kita agar tidak sampai mengalami seperti itu.

Baiklah, coba kita perhatikan ketiga hal tersebut. Menurut Kepala BPKP Perwakilan Jawa Timur yang saya kutip dari Koran Jawa Pos disebutkan bahwa Korupsi bisa dituduhkan ke seseorang jika :
1. Ada Unsur Melawan Hukum;
2. Terjadi Unsur Kerugian Negara; dan
3. Terbukti Memperkaya Diri Sendiri atau Orang Lain/ Korporasi.

Kita tidak akan membahas panjang lebar ketiga hal tersebut, karena itu kompetensi teman – teman di bidang hukum. Tetapi paling ndak untuk pengadaan barang/jasa dan pengelolaan keuangan daerah yang menjadi bagian dari tugas kita sehari – hari, saya rasa kita bersama – sama sudah cukup kompeten untuk mendiskusikannya, paling ndak tentang Kerugian Negara.

Saya kutip pada UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, pasal 1 nomor 22 yang berbunyi : ”Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai”.

Ternyata kerugian negara tidak boleh ditafsirkan sendiri. Meskipun di UU Tipikor ada kalimat kerugian negara, maka definisi operasionalnya harus mengikuti UU yang khusus mengatur tentang keuangan negara.

Jadi kerugian negara terjadi jika :

  1. Ada uang yang seharusnya diterima negara tapi tidak masuk ke kas negara;
  2. Terjadi situasi yang mana surat berharga (berarti bisa termasuk sertifikat hak atas tanah atau aset lain, jaminan bank seperti jaminan pelaksanaan proyek atau sejenisnya atau mungkin bilyet deposito dan sejenisnya) yang menjadi hak negara dikuasai pihak lain secara tidak sah atau ternyata tidak bisa di-uang-kan;
  3. Kekurangan barang yang seharusnya menjadi hak negara.

Okey, kita mulai fokus ke pengadaan barang/jasa.

Case pertama :
Kapan bisa terjadi ”ada uang yang seharusnya diterima negara tapi tidak masuk ke kas negara”? Dalam pengadaan khususnya pelaksanaan kontrak, negara berhak memperoleh denda jika terjadi keterlambatan penyelesaian pekerjaan sesuai kontrak. Jika denda tersebut tidak masuk ke negara ya bisa dituduh korupsi tuh pejabat yang mempunyai kewenangan untuk nagih denda.

Selanjutnya case kedua :
Kapan terjadi situasi yang mana ”surat berharga yang menjadi hak negara dikuasai pihak lain secara tidak sah atau ternyata tidak bisa di-uang-kan dalam konteks pengadaan barang/jasa” ? Menurut Keppres 80/2003, jika peserta lelang mengundurkan diri pada saat pelaksanaan pemilihan penyedia barang/jasa maka jaminan penawaran menjadi hak negara. Juga pada tahap pelaksanaan kontrak jika ada wan prestasi dan ada pemutusan kontrak maka jaminan pelaksanaan juga menjadi milik negara. Kutipan tepat-nya dari Keppres 80/2003 adalah sebagai berikut :
”… klarifikasi kewajaran harga apabila harga penawaran dinilai terlalu rendah, … maka peserta lelang tersebut harus bersedia untuk menaikkan jaminan pelaksanaannya menjadi sekurang-kurangnya persentase jaminan pelaksanaan yang ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa dikalikan 80% (delapan puluh persen) HPS, bilamana ditunjuk sebagai pemenang lelang. Dalam hal peserta lelang yang bersangkutan tidak bersedia menambah nilai jaminan pelaksanaannya, maka penawarannya dapat digugurkan dan jaminan penawarannya disita untuk negara ..”.
Lalu ada lagi yang bisa saya kutip :
” … Apabila yang bersangkutan mengundurkan diri dan masa penawarannya masih berlaku maka pengunduran diri tersebut hanya dapat dilakukan berdasarkan alasan yang dapat diterima secara obyektif oleh pengguna barang/jasa, dengan ketentuan bahwa jaminan penawaran peserta lelang yang bersangkutan dicairkan dan disetorkan pada Kas Negara/Daerah.”
Dan ada lagi :
” … Terhadap penyedia barang/jasa yang ditetapkan sebagai pelaksana pekerjaan mengundurkan diri dengan alasan yang tidak dapat diterima dan masa penawarannya masih berlaku, disamping jaminan penawaran yang bersangkutan dicairkan dan disetorkan pada Kas Negara/Daerah.”
Disamping itu di pasal 35 Keppres 80/2003 dinyatakan :
”Pemutusan kontrak yang disebabkan oleh kelalaian penyedia barang/jasa dikenakan sanksi sesuai yang ditetapkan dalam kontrak berupa :
a. jaminan pelaksanaan menjadi milik negara;
b. sisa uang muka harus dilunasi oleh penyedia barang/jasa;
c. membayar denda dan ganti rugi kepada negara”

Terakhir case ketiga :
Kapan terjadi kekurangan barang yang seharusnya menjadi hak negara dalam konteks pengadaan ? Menurut saya, jika dalam kontrak pengadaan sudah disepakati harga sekian rupiah akan dibayarkan kepada penyedia barang/jasa dengan sekian output sudah di-deliver kepada pemelik pekerjaan (misalkan 10 mesin jahit atau 1000 meter persegi jalan paving K-350), maka jika output tersebut secara kuantitas tidak memenuhi ketentuan dalam kontrak dan pemilik pekerjaan (PPKm) tetap membayar penuh, dapat dipastikan negara dirugikan.

Pertanyaan lanjutan, bagaimana jika output di-deliver dengan kuantitas sesuai kontrak tapi kualitas (spesfikasi teknis) tidak memenuhi dan PPKm tetap membayar penuh ? Ya ini juga terjadi kerugian negara.

Pertanyaan terakhir : bagaimana jika saat pekerjaan dilaksanakan (khususnya fisik konstruksi) ditemukan spesifikasi teknis tidak memenuhi dan pembayaran masih belum dibayar penuh, apakah disini juga terjadi unsur kerugian negara ?
Menurut yang saya ketahui dari Keppres 80/2003, jika pekerjaan belum di-serahterima-kan ya berarti PPKm masih bisa meminta kepada penyedia barang/jasa untuk memenuhi spesifikasi teknis yang diminta dalam kontrak sebelum menyelesaikan pembayaran yang diminta.
Petikan kalimat di keppres 80/2003 pasal 36 ayat (2) sebagai berikut : ”Pengguna barang/jasa melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah diselesaikan, baik secara sebagian atau seluruh pekerjaan, dan menugaskan penyedia barang/jasa untuk memperbaiki dan/atau melengkapi kekurangan pekerjaan sebagaimana yang disyaratkan dalam kontrak”.

Jadi mestinya ndak bisa suatu proyek konstruksi ditengah jalan harus berhenti karena PPKm dan kontraktor ditahan gara – gara tuduhan korupsi karena ditemukan spesifikasi teknis yang belum dipenuhi oleh rekanan/ kontraktor. Yang mungkin terjadi bila fisik telah selesai 100% dan uang sudah dibayar 100% pula, daaan …. ditemukan spesifikasi teknis tidak sesuai kontrak. Ini barangkali bisa kena tuduhan kerugian negara …

Sementara itu postingan kali ini, mungkin ada yang tidak sependapat dengan pemikiran saya ya ndak apa – apa kan ?!
Salam.

14 thoughts on “Pada Pengadaan Barang/Jasa, jika bagaimana terjadi kerugian negara ?

  1. iya mas…jadi kita lebih hati2 untuk memperbaiki sistem pengadaan barang dan jasa di instansi kita…tapi mas saya mau tanya…gimana dengan kontrak MOU untuk pengadaan jasa non fisik apakah di mungkinkan…?

    • MoU kan bukan kontrak, seingat saya secara substantif beda. Biasanya kan yang MoU itu antar instansi pemerintah dengan instansi pemerintah lain. Jadi kalau kemudian ada kerjasama sebagai tindak lanjut MoU (Nota Kesepahaman) biasanya ya dilakukan dengan kegiatan swakelola. Dan itu biasa-nya banyak yang sifatnya non fisik.

  2. Kasus Lucu

    Seorang pengamen ngambil kaca spion mobil berplat merah. Koruptorkah ia?

    Sang pengamen harus disebut koruptor karena:
    1. Ada Unsur Melawan Hukum (Ngambil spion tanpa pamit);
    2. Terjadi Unsur Kerugian Negara (negara harus beli spion baru); dan
    3. Terbukti Memperkaya Diri Sendiri atau Orang Lain/ Korporasi. (spion dicuri dan dijual di pasar “spanyol” untuk (agak) memperkaya dirinya atau gerombolannya)

    Salam bos. Dari rusmanik, yang tahun lalu ikutan mbantu Pak Ikhsan Bappeko mbantu boca-baca draft RKPD serta KUA dan PPAS 2008. Sempat juga main ke BINA PROGRAM(“ER”)

    • Wah, iya ya ?! si tukang ngamen ini masuk koruptor ndak ya he he he ??? koruptor itu harus PNS atau pegawai BUMN atau pihak yang berkontrak dengan Pemerintah/ BUMN trus memenuhi unsur – unsur yang Pak Rusmanik bilang !?? Kalau ya berarti si pengamen mungkin masuk kategori kriminal biasa he he he, tapi PNS yang bertanggung jawab membawa mobil tadi jangan – jangan bisa dikategorikan koruptor gara – gara lalai menjaga mobil plat merah tadi hi hi hi, ampuun !!! (karena di UU 1/2004 gara – gara lalai bisa terjadi kerugian negara), wah wah memang berat hidup didunia ini …, apalagi di jaman saat pemberantasan KKN sedang mencari bentuk dan jati diri yang paling pas. Yaah doa yang banyak ya Pak sama Tuhan agar kita semua selamat dalam menjalankan tugas – tugas di dunia dan selamat pulalah saat setelah mati nant (diakhirat diterima di sisi-Nya), amin.
      Makasih ya Pak atas kasus lucunya, sangat inspiratif sekali.

    • Pak Agus S Kacaribu, saya pernah posting di blog ini dengan title “Masa berlaku kontrak pengadaan barang/jasa” pada tanggal 27 Agustus 2008. Isinya kurang lebih menyangkut perihal yang Pak Agus tulis …
      Salam kenal ya Pak.

  3. Pak, sebenarnya berapa lama jangka waktu jaminan pelaksanaan itu bisa diuangkan ? Bila sudah berbeda tahun anggaran, apakah jaminan pelaksanaan tahun anggaran kemarin bisa dicairkan?

    terima kasih

    • Setahu saya ya sesuai dengan mas berlaku yang ada di jaminan pelaksanaan tersebut. Meskipun sudah lewat tahun anggaran kalau mau dicairkan ya mestinya bisa, akan tetapi biasa-nya pihak penerbit jaminan pelaksanaan akan meminta dulu bukti – bukti sebagaimana syarat pencairan yang tertulis pada dokumen jaminan pelaksanaan itu.

  4. pa saya mau bertanya….sering kali kami berbeda persepsi dengan pptk atau panitia lelang tentang jaminan pelaksanaan. Yang akan saya tanyakan adalah;
    1. Jaminan pelaksanaan seharusnya terbit sebelum tanggal penandatangan kontrak atau setelah?

    2. Apakah tidak menyalahi aturan apabila jamlak terbit setelah tanggal kontrak..misal tanggal kontrak 22 mei 2009, sedangkan tanggal penerbitan 24 Mei 2009, mohon penjelasan??

    3. Sedangakan di bank tidak mungkin waktu penerbitan mundur

    di keppres di jelaskan bahwa pengusaha harus dapat menerbitkan jamlak sekurang kurangnya 14 hari setelah SPPJ…. terima kasih

    • Pak/ Bu Setya yang baik …
      1. Jaminan pelaksanaan saya pikir harus ada sebelum penandatangan kontrak sebagai bentuk kesiapan penyedia barang/jasa untuk berkontrak dan prinsipnya menggantikan jaminan penawaran yang sudah ada sebelumnya;
      2. Saya ndak bisa men-justifikasi apakah salah secara hukum jika jaminan pelaksanaan terbit setelah kontrak. Tapi logika administrasinya ya mestinya sebelum kontrak ditandatangani, cobalah diskusi dengan pakar hukum yang ada di perguruan tinggi terdekat dengan menceritakan logika administrasinya terlebih dahulu;
      3. Ya betul tuh, Bank ndak akan mau kalau “back date” spt itu.
      Saya rasa begitu ya ?!! salam.

  5. mohon penjelasan :

    ada rekanan yang sudah menyelesaiakan pekerjaan pengadaan barang. kemudian sudah diserahkan kepada pengguna anggaran dan sudah ada berita acara penerimaan dan dinyatakan 100% acc dan ditandatangani semua. kemudian masa garansi atas barang yang diterimakan sudah habis masa garantienya bahkan sudah 2 tahun berlalu tidak ada permasalahan (tahun 2007)
    Permasalahan muncul pada pertengahan tahun 2009. Ada rekanan yang dahulunya kalah tender melaporkan kpd kejaksaan, bahwa ada penyimpangan ukuran ketebalan plat besi tidak sesuai dengan spek (walaupun tidak semuanya).

    pertanyaan saya :
    1. apakan permasalahan tersebut bisa diangkat ketika sudah berlalu dan sudah ada berita acara penyerahan barang secara resmi.
    2. perkara tersebut menjadi tanggung jawab siapa ? penyedia barang atau pengguna anggaran ?

    demikian pertanyaan saya, terima kasih sebelumnya atas jawabannya. ( jika berkenan saya mohon jawaban bisa dikirimkan melalui email)

    • Waduh pak Gersom …
      Kalau sudah masalah hukum saya benar – benar tidak berani mengambil kesimpulan … maklum takut salah he he he. Kalau masalah prosedur dan administrasi maka boleh-lah …

  6. masalahnya di Keppres sendiri banyak pasal-pasal yang gak sinkron, artinya pasal yang satu kadang bertentangan dengan pasal lainnya, kadang malah pasal di Keppres no 80 tahun 2003 gak met sama sekali dengan undang undang jasa konstruksi

    • Mas Kresno,
      Perpres 54/2010 sudah banyak menjawab permasalahan yang kita hadapi di keppres 80/2003. Semoga makin maju ya dunia pengadaan kita …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s